Himbauan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kepada masyarakat untuk melakukan Vaksin Booster
Prof. Nyayu Khodijah, didampingi Wakil Rektor I (Dr. Muhammad Adil, M.A.), Wakil Rektor III (Dr. Hj. Hamidah, M.Ag.), dan Kepala Biro AAKK (Drs. H. Jumari Iswadi, M.M.).
Prof. Nyayu Khodijah, didampingi Wakil Rektor I (Dr. Muhammad Adil, M.A.), Wakil Rektor III (Dr. Hj. Hamidah, M.Ag.), dan Kepala Biro AAKK (Drs. H. Jumari Iswadi, M.M.).

Rektor UIN Raden Fatah Buka Suara Terkait Penganiayaan Mahasiswa

WartaDesaku.id — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, Prof. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.A., akhirnya buka suara terkait peristiwa penganiayaan terhadap mahasiswa.

Dirinya membenarkan kejadian pemukulan terhadap mahasiswa, melalui keterangan resmi saat pertemuan dengan wartawan di Gedung Pusat Administrasi Lantai 2 Kampus B UIN Raden Fatah, Jakabaring, pada hari Kamis tanggal 6 Oktober 2022.

“Memang benar telah terjadi pemukulan antar mahasiswa. Pemukul dan yang dipukul, sama-sama mahasiswa.” ucap Prof. Nyayu Khodijah, didampingi Wakil Rektor I (Dr. Muhammad Adil, M.A.), Wakil Rektor III (Dr. Hj. Hamidah, M.Ag.), dan Kepala Biro AAKK (Drs. H. Jumari Iswadi, M.M.).

Selain itu, dirinya pun mengungkapkan, pihaknya masih akan melakukan investigasi lebih lanjut guna menggali lebih jauh, terkait motif pemukulan mahasiswa yang terjadi.

Baca Juga :  Dorong Paguyuban Sinar Mas Sumsel Sukseskan GSMP di Kecamatan dan Desa

“Untuk saat ini, kita masih terus melakukan investigasi melalui tim khusus yang sudah kita bentuk. Kali ini, kita akan menelusuri lebih dalam, motifinya seperti apa.” tuturnya.

Prof. Nyayu Khodijah juga menyampaikan, pihak kampus akan memanggil pembina UKMK Litbang, guna menggali informasi lebih dalam lagi.

“Pihak kampus tentunya akan memanggil Pembina UKMK Litbang, sejauh apa beliau melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembina dan akan akan memeriksa pembina UKMK Litbang.” tegasnya.

Sementara itu, terkait korban yang melapor ke Polda Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), dirinya menyatakan bahwa itu adalah hak korban dan keluarganya. Pihak kampus tidak bisa melarang. Yang pastinya, korban atau terduga pelaku adalah mahasiswa dan anak-anak mereka. (ohs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *