Himbauan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan kepada masyarakat untuk melakukan Vaksin Booster
Tim Penelitian Universitas Terbuka Palembang bertemu dengan Tokoh Masyarakat Semendaway, Drs. M. Ali Pasyai, M.M., didampingi Tokoh Tetua Minanga, Malwani. (foto : akbar)
Tim Penelitian Universitas Terbuka Palembang bertemu dengan Tokoh Masyarakat Semendaway, Drs. M. Ali Pasyai, M.M., didampingi Tokoh Tetua Minanga, Malwani. (foto : akbar)

Tim Universitas Terbuka Palembang Teliti Sejarah Minanga Komering

WartaDesaku.id — Minanga Komering Penasaran dengan toponimi Minanga yang dikaitkan sebagai periode bermula Sriwijaya seperti dinarasikan Arlan Ismail dalam bukunya, Tim Penelitian Universitas Terbuka (UT) Palembang yang dipimpin oleh Dr. Meita Istianda (UT Palembang) bersama Dr. Dedi Irwanto (Universitas Sriwijaya), Giyanto (Universitas PGRI Palembang), Dr. (Cand.) Kms. A. Rachman Panji (UIN Raden Fatah), Dudi Oskandar (Jurnalis Sejarah dan Budaya Palembang), dan Hidayatul Fikri, S.Kom. (Youtuber Beken dan Keren Kebanggaan Kota Palembang) terjun langsuung ke lokasi.

Selama hari, sejak Senin tanggal 19 September 2022, Tim Penelitian bertemu dengan Tokoh Masyarakat Semendaway, Drs. M. Ali Pasyai, M.M., didampingi Tokoh Tetua Minanga, Malwani.

“Berdasarkan apa yang saya baca, saya cenderung membenarkan pendapat Pak Arlan Ismail. Kata Minanga berasal dari Proto Melayu Purba yang artinya Muara Sungai. Minanga dalam catatan Cina berjudul Tang Hui Yao, pernah mengirim utusan pertama kali pada tahun 644 Masehi, zaman Dinasti Tang. Artinya, kata Minanga sudah dikenal lama, bahkan sebelum Sriwijaya berdiri.” kata Ali Pasyai, pada hari Selasa tanggal 21 September 2022.

Sosok yang pernah menjabat sebagai Asisten III Bidang Umum dan Kemasyarakatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ulu (OKU) Timur itu berpendapat, arti Minanga sudah ada sebelum Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pertama kali oleh orang Belanda bernama C.J. Batenburg pada 29 November 1920 di Kedukan Bukit, Palembang, tepatnya di tepi Sungai Tatang, anak Sungai Musi.

Selain itu, Minanga sudah ada sebelum Prasasti Kedukan Bukit ditranskripkan oleh Phillipus Samuel van Ronkel tahun 1924. “Jadi, Minanga ini sudah ada sebelum Sriwijaya. Pada daerah Minanga ini juga pernah ditemukan patung arca perunggu Boddha. Disebut Maitreya Komering Sriwijaya Abad ke 9. Yang disimpan di Museum Nasional di Jakarta. Selain itu juga pernah ditemukan mata uang Cina masa Dinasti Tang.” tuturnya.

Baca Juga :  Hj. Anita Noeringhati Bantu Pengobatan Qoriah Tuna Netra

Keyakinan seperti itu, menurut dirinya juga ditambah dengan informasi dimana pada masa awal pemerintahan di Palembang, Minanga awalnya adalah sebuah Marga. Ketika masa Pangeran Sida Ing Kenayan pada tahun 1629 berkuasa di Palembang, pernah menerbitkan piagam bertuliskan huruf arab dan berbahasa Melayu tentang tapal batas Marga Minanga. Minanga mewakili kelompok kekerabatan yang ada di aliran Sungai Komering. Kelompok kekerabatan itu terbentuk dari 7 kepuyangan, salah satunya Puyang Minak Ratu Damang Bing.

“Puyang Ratu Damang Bing ini asal usul puyang yang menurunkan orang Minanga. Makam Beliau ada di Minanga Besar.” jelasnya.

Sepanjang catatan awal marga di Sumatera Selatan, awalnya seluruh daerah di aliran Sungai Komering ini disebut dengan nama kebuwayan atau Buway. “Way ini artinya sungai. Pada kelompok dialiran sungai Komering yang mendiami bagian ulu. Mereka yang tinggal di lebak sungai disebut Samandaway. Sedangkan kelompok yang tinggal di talang rumput dipinggiran sungai disebut Buway Madang.” tambah Ali Pasyai.

Ketika penataan marga oleh Sultan Abdurrahman Cinde Belang oleh sebab wilayah Minanga meluas, maka Marga Minanga dirubah menjadi Marga Samandaway, mulai dari Betung sampai ke Gunung Batu. Namun pada masa penataan marga zaman penjajahan Belanda, Marga Semendaway dirubah menjadi empat marga, yakni Marga Semendaway Soekoe I, Marga Semendaway Soekoe II, Marga Semendaway Soekoe III dan Marga Gunung Batu.

Pada masa kini, Minanga dimekarkan menjadi dua desa. Desa Minanga Tongah dan Desa Minanga Besar yang masuk Kecamatan Semendaway Barat.

“Melihat sejarah panjang Minanga ini. Saya berpesan ke pihak UT Palembang agar memasukan narasi Minanga ini dalam buku Identitas Komering yang akan ditulis dalam penelitian ini.” harap Ali Pasya. (al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.